​“Kita adalah bangsa yang besar, bukan bangsa tempe.” Begitu pesan Bung Karno dalam Pidato Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1963. Tapi apalah arti bangsa besar jika kita tidak sadar, dan tak  berjiwa seperti Bung Besar. Organisasi Shiddiqiyyah sebuah organisasi yang cinta tanah air Indonesia akan menggelar Munas Le-IV dengan semangat “Kembali pada Jati Diri Bangsa.”  Ivent nasional yang akan dilaksanakan di Hotel Aston Denpasar Bali pada tanggal 7 s/d 9 Oktober 2016 ini akan dihadiri oleh Badan Pertimbangan Presiden, para Tokoh Lintas Agama, dan yang utama adalalah para Pemuka Adat Bali. 
Deklarasi  “Kembali pada Jati Diri Bangsa Indonesia” ini akan diawali dengan Pengambilan Sumpah Jati Diri Bangsa untuk setia dan sedia berkorban demi lestarinya nilai luhur bangsa Indonesia, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, Bendera Sang Saka Merah Putih, Proklamasi, dan Sumpah Pemuda. Pada saat tersebut, ribuan Putra dan Putri perwakilan seluruh wilayah Indonesia akan Bersumpah seiring dengan Pelaksanaan Musyawarah Nasional ke-IV Organisasi Shiddiqiyyah  ini.

Dalam Musyawarah Nasional ini beberapa isu nasional yang terkait dengan Jati Diri Bangsa akan menjadi Topik Pembahasan Utama,  di antaranya soal Dukungan Petisi kepada Pemerintah untuk mengganti istilah “Kemerdekaan Republik Indonesia,” menjadi “Kemerdekaan Bangsa Indonesia,” pada setiap Peringatan 17 Agustus tiap tahunnya, yang memang sudah sesuai dengan teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945. 

Tidak kalah penting menurut Ketua DPP ORSHID Drs. Ris Suyadi Munas Orshid Ke-IV ini juga akan dibahas usulan kepada Pemerintah untuk mengembalikan UUD 1945 yang asli, khususnya adanya amandemen pada pasal 6 UUD 1945.  

“Presiden ialah orang Indonesia asli, itu sekarang sudah di amandemen, kita akan usulkan kepada pemerintah untuk dikembalikan,” tegasnya Drs. Ris Suyadi. Sebagaimana dimaklumi Pasca Reformasi UUD 1945 telah diamandemen sebanyak empat kali. Diantara yang diamandemen adalah pasal 6.  Pasal 6 ayat 1 yang berbunyi “Presiden ialah orang Indonesia asli” kalimat itu sekarang sidah diganti menjadi: “Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden harus seorang Warga Indonesia.  Klausul ini harus dikembalikan seperti apa adanya sebelum diamandemen. 
Bali dipilih sebagai tempat untuk pelaksanaan “Deklarasi Kembali pada Jati Diri Bangsa,” ini bukan tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Bali adalah contoh kongkrit sebuah wilayah yang amat lekat dengan adat budaya. Dengan berpegang pada Jati Diri, Bali menjadi terkenalnamanya di seluruh dunia bahkan mengalahkan ketenaran nama Indonesia. Bali dan kembalinya Jati Diri Bangsa nampaknya ada kaitan erat. Inilah harapan dan do’a kita.* ad

EditorBerita Pusat
​“Kita adalah bangsa yang besar, bukan bangsa tempe.” Begitu pesan Bung Karno dalam Pidato Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1963. Tapi apalah arti bangsa besar jika kita tidak sadar, dan tak  berjiwa seperti Bung Besar. Organisasi Shiddiqiyyah sebuah organisasi yang cinta tanah air Indonesia akan menggelar Munas Le-IV...