Sang Mursyid bersama Gus Ipul (wakil Gubernur Jatim) Dalam acara TTBH Bojonegoro

Sang Mursyid bersama Gus Ipul (wakil Gubernur Jatim) Dalam acara TTBH Bojonegoro

Sang Mursyid menggambarkan hijrahnya Rosululloh laksana hijrahnya bangsa Indonesia. Ada inti, ruh yang harus diambil.

Banyak yang merasa puas dengan penyelenggaraan Peringatan Tahun Baru Hijriyyah 1438H di Bojonegoro. Tempat yang luas, rapi dan teratur. Sajian seni tradisional tari, sholawatan dan seni pencak silat turut menyemarakkan syi’arnya tahun baru yang digelar di halaman Stadion Letjen H. Soedirman kabupaten Bojonegoro 28 Muharrom 1438H (30/10/16) itu. Unik juga, kehadiran Almukarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Muchtarulloh Almujtaba beserta keluarga yang datang ke dalam acara dengan kereta kuda yang dihias anggun dengan disambut seni pencak silat dari 13 perguruan di Kabupaten Bojonegoro.

Wala takkun minal ghofilin” jangan lupa, jangan lengah ayat ini adalah cikal bakal terciptanya syair Sumber Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI,” ingat sang Mursyid mengawali pitutur luhurnya. Dan juga bersumber pula dari pembukaan UUD 1945 alinea ketiga yang berbunyi “Atas berkat rohmat Alloh yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Dari pembukaan UUD 1945 alinea ketiga itu beliau mengupas tentang dua jiwa yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. “Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa bersumber dari jiwa religious “Dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas,” bersumber dari jiwa kebangsaan bangsa Indonesia”. Manunggalnya jiwa religious dan jiwa kebangsaan Indonesia itulah yang dinamakan jati diri bangsa Indonesia.

Sang Mursyid menambahkan jati diri bangsa Indonesia adalah sesuatu yang amat dekat dengan bangsa Indonesia itu sendiri. Hal itu pula lah yang diisyaratkan di dalam Pembukaan UUD 1945 maupun dalam teks proklamasi. Disebutkan dengan “ini” bukan “itu”,  karena ini menunjukan sesuatu yang dekat dengan bangsa Indonesia. “Apa yang dekat dengan bangsa Indonesia? yang dekat ya jati diri bangsa Indonesia,” tutur Sang Mursyid.

Hijrahnya Bangsa Indonesia
Sang Mursyid lantas menggambarkan kemerdekaan bangsa Indonesia itu sama dengan hijrahnya umat Islam dari Makkah ke Madinah. Tanggal 17 Agustus 1945 itulah peristiwa hijrahnya. “Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Pemindahan itu hijrah, hijrah dari kekuasaan penjajahan kepada kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Sang Mursyid mengingatkan…(baca lanjutan berita di majalah alkautsar edisi 126)

sambutan-sambutan

sambutan-sambutan

AL-KAUTSAR | EDISI 126 | 15 Shofar 1438 H (16/11/16)

EditorBerita Pusat
Sang Mursyid menggambarkan hijrahnya Rosululloh laksana hijrahnya bangsa Indonesia. Ada inti, ruh yang harus diambil. Banyak yang merasa puas dengan penyelenggaraan Peringatan Tahun Baru Hijriyyah 1438H di Bojonegoro. Tempat yang luas, rapi dan teratur. Sajian seni tradisional tari, sholawatan dan seni pencak silat turut menyemarakkan syi’arnya tahun baru yang digelar...