Hadi Purnomo sangat bersyukur telah menjadi warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Selain merasa telah mendapat jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, kini ia lebih tenang dalam mendayung biduk rumah tangganya. Jalan berliku penuh ombak berduri yang pernah dilalui bersama keluarga, kini mulai menunjukkan titik terang menuju kehidupan yang lebih baik.

Saat dikunjungi Perwakilan Dhibra Gresik, banyak cerita yang meluncur dari mulut pria 40 tahun itu. Kehidupan yang sulit telah menjadi hiasan hidup masa lalunya. Delapan tahun lalu, Hadi Purnomo bersama keluarga seakan mendapat durian runtuh. Tahun 2008 saat keluarganya masih tinggal di rumah bambu, tiba-tiba mendapat tawaran rumahnya akan direhabilitasi dengan bangunan permanen.”Sulit diungkapkan dengan kata kata,” kenangnya menggambarkan suasana hatinya saat itu.

“Terbayang pun tidak. Dari gubug bambu tiba tiba menjadi rumah tembok,” tambahnya. Kegembiraan bapak dari 4 orang anak ini cukup beralasan. Ia merasa tidak akan mampu membangun rumah yang layak mengingat pekerjaannya hanyalah sebagai penjual tahu petis (tahu goreng yang diberi sambal petis, Red.) keliling dari kampung ke kampung dengan penghasilan 30 ribu rupiah sehari.

Dengan kondisi rumah yang lebih layak, menjadikan Hadi, begitu ia biasa disapa, lebih tenang dan semangat dalam mengais rezeki. Bersama sang isteri, Yunani (35 tahun), Hadi membuat inovasi baru terhadap tahu goreng produksinya. Dari tangan terampil pria ramah inilah, maka kemudian tercipta tahu susu atau tahu pong yang kaya cita rasa. “Dari hasil percobaan sendiri ini, rasanya dijamin lebih enak dari produk yang lain,” ujarnya sambil tersenyum berpromosi.IMG-20161108-WA0002

Kini tahu susu produksi Hadi Purnomo yang diberi merk ‘Tahu Pongsu’ telah merambah pasar Gresik bagian selatan dan Surabaya. Omzetnya saat ini mencapai 1500 bungkus dengan nilai 2,4 juta rupiah per hari. Untuk menjalankan bisnisnya, jebolan salah satu Pondok Pesantren di daerah Peneleh Surabaya ini dibantu oleh isteri dan dua anaknya yang telah beranjak dewasa, serta 2 orang tetangga. “Semuanya saya bayar, 50 ribu per orang per harinya,” ujarnya menambahkan. Sedangkan untuk menunjang pemasaran, sekarang telah tersedia dua unit sepeda motor dan satu unit motor roda tiga. Kegiatan produksi dilaksanakan di depan rumah yang dibangun permanen ukuran 4 x 10 meter persegi.

Ditanya apa rencana ke depannya, ayah dari Hidayat Purnama​​sari (19), Mustofa (16), Karisma (14), dan Hafit Assyari (11) yang mengaku hafal 10 juz Al-Qur’an ini mengaku ingin memiliki pabrik tahu sendiri sebagai sumber bahan baku. Saat ini masih bergantung pada pabrik tahu lain, sehingga sulit untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Akibatnya, banyak permintaan pasar yang harus ditolak karena belum mampu untuk memenuhi. Hadi Purnomo pun berharap ada dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik untuk mewujudkan impiannya.

Sebagai penerima bantuan RLHS, Hadi Purnomo tidak melupakan masa lalunya. Ia cukup aktif mendukung kegiatan Thoriqoh Shiddiqiyyah di Gresik, terutama sebagai donatur Dhibra Perwakilan Gresik.

-Mito Diharjo ( Ketua Dhibra Gresik)-

EditorKiprah Warga
Hadi Purnomo sangat bersyukur telah menjadi warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Selain merasa telah mendapat jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, kini ia lebih tenang dalam mendayung biduk rumah tangganya. Jalan berliku penuh ombak berduri yang pernah dilalui bersama keluarga, kini mulai menunjukkan titik terang menuju kehidupan yang lebih...