Selepas acara Tasyakuran Tahun Baru Hijriyyah 1438 di Bojonegoro satu bulan yang lalu, 04 Desember 2016 lalu seluruh jajaran panitia mengadakan tasyakuran penutupan panitia di Hotel MCM Bojonegoro. Sekitar 300 lebih warga Shiddiqiyyah Bojonegoro yang hadir untuk ikut serta dalam acara yang juga diselingi dengan pembagian doorprize ini. “Acara syukuran Alhamdulillah sukses dihadiri 300 lebih warga, ada kelebihan dana dari acara TTBH yang dipakai untuk pengembangan yaitu mau dibelikan sawah,” kata Wasriah Ketua Jamiyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah Bojonegoro.IMG-20161208-WA0004

Mengingat acara Tasyakuran Tahun Baru Hijriyyah merupakan acara nasional, tentu saja nominal yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Dengan jumlah pemasukan uang sebesar Rp 734.966.810, panitia dapat mengeluarkan dana sebesar Rp 652.470.194 untuk acara besar tersebut dan masih dapat menyisakan dana sebesar Rp 82.496.616. Sungguh patut diacungi jempol karena ini merupakan acara besar, namun panitia dapat menyisakan dana sebesar itu. Para panitia pun juga tidak menduga ada kelebihan dana sebanyak itu. Dengan sisa saldo sebesar itulah, warga Shiddiqiyyah Bojonegoro dapat membeli sawah seharga Rp 70 juta.

Alhamdulillah saldonya bisa kita gunakan untuk beli sawah. Sisanya rencana akan digunakan untuk beli karpet untuk gedung pertemuan, beli karpet untuk gedung JM, bangun masjid, untuk doorprize tasyakuran penutupan kemarin dan LPJan,” terang Agus Supratman selaku pengurus DPC Kecamatan Balen Bojonegoro dengan memperlihatkan rincian dananya kepada Al-Kautsar. “Itungan pengeluarannya memang terhitung sangat irit, tapi ini semua karena dawuhan Pak Kyai saat panitia sowan awal dulu bahwa Bojonogero dengan dana lima ratus juta itu sudah lebih dari cukup. Dari situlah kita semangat membentuk panitia besar dan lebih kompak untuk mempersiapkan acara besar tersebut, banyak sumbangan-sumbangan tak terduga dari warga untuk acara besar itu,” tambahnya.

Untuk pembelian sawah, Agus Supratman mengaku sudah ada perbincangan tawar menawar dengan pemiliknya yang tidak lain adalah juga salah satu warga Shiddiqiyyah Bojonegoro. Sawah yang memiliki luas kira-kira 2000 m2 itu awalnya diberikan harga Rp 80 juta kemudian sempat ditawar oleh pihak lain sebesar 75 juta namun pada akhirnya deal diberikan kepada para panitia dengan harga 70 juta yang sudah termasuk proses sertifikat balik nama. “Mungkin karena sesama warga, jadi Alhamdulillah dapat kemudahan. Sudah deal, harga tanahnya Rp 60 juta dan proses balik namanya Rp 10 juta jadi totalnya Rp 70 juta,” kata Agus Supratman.

Agus mengaku pembelian sawah yang berada di Ds. Ngraseh, Kec. Dander Bojonegoro tersebut dilakukan karena sawah dapat memberikan manfaat untuk jangka panjang yang tidak lain mendapatkan keuntungan dari hasil panennya dengan perkiraan satu kali panen dapat menghasilkan satu ton padi, jadi bisa dibayangkan manfaat yang didapatkan nanti. Hal ini dilakukan juga tidak lepas dari izin dan petunjuk para Kholifatus Shiddiqiyyah, Kholifah Moch. Hamim, Kholifah M. Muhtadi, dan Kholifah Ahmad. “Beli sawah sebagai sumber dana, kalau panen hasilnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan di Otonom Shiddiqiyyah Bojonegoro,” pungkasnya.*

EditorKiprah Warga
Selepas acara Tasyakuran Tahun Baru Hijriyyah 1438 di Bojonegoro satu bulan yang lalu, 04 Desember 2016 lalu seluruh jajaran panitia mengadakan tasyakuran penutupan panitia di Hotel MCM Bojonegoro. Sekitar 300 lebih warga Shiddiqiyyah Bojonegoro yang hadir untuk ikut serta dalam acara yang juga diselingi dengan pembagian doorprize ini. “Acara...