Saat acara pengajian tiba-tiba listrik padam. Sang Mursyid memberikan pelajaran hikmah dibalik peristiwa ini.

Pitutur Luhur Mursyid dalam acara Maulidin Nabi Muhammad SAW dan Haul Kyai Achmad Syuhada’

Pitutur Luhur Mursyid dalam acara Maulidin Nabi Muhammad SAW dan Haul Kyai Achmad Syuhada’

Setiap peristiwa yang dialami oleh manusia tidak pernah lepas dari yang namanya hikmah, terlepas hikmah itu bisa diambil ataupun tidak. Dan orang-orang yang bisa mengambil hikmah dalam suatu peristiwa ialah orang-orang yang terpilih. Inilah diantara pelajaran penting yang kemarin diajarkan oleh Almukkarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syech Muchtarulloh Almujtaba pada malam pengajian Mauludin Nabi Muhammad SAW dan Haul Kyai Ahmad Syuhada’ yang diselenggarakan di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Losari Ploso Jombang 7 R.Awwal 1438 H (6-7/12/16) lalu.
“Maka tidak semua orang bisa mendapat hikmah makanya di dalam Al-Qur’an disebut waman yu’tal qikmata faqod utiya khoiron khatsiro, yu’tal hikmatan maiyasya’ hikmah itu saya berikan kepada orang yang saya pilih,” tutur Almukkarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba mengawali mauidhotul hasanahnya.
Hikmah besar yang beliau contohkkan pada malam itu adalah adanya pemadaman listrik. Saat Bupati Jombang menyampaikan kata sambutan tiba-tiba aliran listrik PLN padam. Acara yang tadinya berjalan lancar sempat terhenti. Untung panitia bisa mengambil langkah cepat, para teknisi dari pemuda Shiddiqiyyah segera mengalihkan daya menggunaakan genset. Tak lama sound system dan beberapa lampu di depan langsung bisa menyala terang, kendati para peserta pengajian di lapangan matahari terbit dan di beberapa lokasi pesantren tetap gelap. Sound system masih terdengar jelas dan penerangan sementara menggunakan handphone masing-masing.
“Malam ini tadi saya duduk, saya menangkap hikmah yang luar biasa apa itu? pertama lampu padam, kalau padamnya lampu di luar sudah menyusahkan orang banyak, padamnya lampu ini ada berbagai macam sebab mungkin sebab rusak mungkin kongslet,” ungkap beliau.
Padamnya lampu saja sudah menyusahkan banyak orang apalagi kalau padamnya kesadaran bernegara dan beragama menurut Sang Mursyid jauh lebih berbahaya lagi. “Bagaimana kalau kesadaran hidup beragama dan bernegara ini sampai padam?,” tutur Sang Mursyid. Jika padam akibatnya banyak orang-orang beragama tapi praktek kedzolimannya mengatasnamakan agama. Kemudian di bungkus oleh dalil-dalil dibungkus oleh perintah Alloh padahal perintahnya hawanya sendiri. Bagimana pula jika kehidupan bernegara ini sampai padam? orang akan bertindak mengatasnamakan negara, padahal itu hanya sebagai bungkus saja didalamnya penjajahan.
Sang Mursyid melanjutkan, bagaimana kalau sampai legislatif, eksekutif, yudikatif didalamnya padam dari dua kesadaran itu, akhirnya akan bersarang mental-mental penjajahan. “Semua akan dijadikan kedok dijadikan topeng inilah yang bahaya,” tegas Sang Mursyid menegaskan dalam pitutur luhurnya.

Kesadaraan hidup beragama
Sang Mursyid melanjutkan pitutur luhurnya dengan memberikan contoh kehidupan beragama yang harmonis. Dari tarikh Nabi Muhammad di tahun kelima kenabian beliau memberikan perintah kepada para sahabat untuk hijrah ke Negara Habsy atau Ethiopia “Qola Rosululloh SAW : lau qoroj’tun illa ardil habasyadi fa inna biha kana malikan la yudzilamu indahu ahadun wa hiya ardhu shidiqin hatta ‘ajallohu farojan mimma antum fihi jika kamu keluar dari Makkah menuju bumi Ethiopia sesungguhnya disana ada seorang raja yang tidak pernah dzolim terhadap siapapun dan bumi itu bumi yang shidiq,” beliau mengutipkan sedikit hadist.
Kenapa Ethiopia? Karena disebutkan di dalam hadist itu ada raja yang tidak pernah mendzolimi siapapun umat Islam disana diterima dengan baik oleh Raja Ashamah walaupun Raja Ethiopia adalah raja dengan agama Kristen orthodox namun para pembesar kafir Quraysi tidak terima dan mengejar para sahabat ke Ethiopia, para utusan pembesar Makkah waktu itu datang dengan membawa banyak hadiah untuk raja dan orang-orang disekililing raja agar mendukung keputusan…
(AL-KAUTSAR EDISI 127 |15 R.Awwal 1438 H (15/12/16)

EditorBerita Pusat
Saat acara pengajian tiba-tiba listrik padam. Sang Mursyid memberikan pelajaran hikmah dibalik peristiwa ini. Setiap peristiwa yang dialami oleh manusia tidak pernah lepas dari yang namanya hikmah, terlepas hikmah itu bisa diambil ataupun tidak. Dan orang-orang yang bisa mengambil hikmah dalam suatu peristiwa ialah orang-orang yang terpilih. Inilah diantara pelajaran...