Di era informasi sekarang ini, kita tidak bisa lepas dari derasnya arus informasi. Entah melalui media cetak maupun elektronik, apalagi yang aktif di sosial media atau jejaring sosial, terlebih lagi yang suka googling atau suka berselancar di dunia maya. Informasi apa saja akan dengan mudah dan cepat sampai kepada kita, juga sebaliknya, kitapun bisa dengan mudah dan cepat untuk menyebarkannya. Dan karena “penyebaran informasi” ini tidak mengenal ruang dan waktu (dunia seolah tidak ada batas), juga tidak mengenal pelaku (dalam arti siapapun bisa), maka tak pelak dari informasi yang tersebar itu isinya lengkap dan beragam. Dari yang berisi berita factual sampai bohongan, iklan sampai da’wah, ilmu pengetahuan sampai bualan, aspiratif sampai provokatif, dan seterusnya.
Yang jadi masalah bagaimana kalau informasi yang sampai pada kita itu bohongan dan kita mempercayainya kemudian ikut menyebarkannya. Iya kalau penyebaran informasinya tidak membawa dampak apa-apa, tapi kalau sampai berakibat meresahkan masyarakat, apalagi sampai menimbulkan kebencian hingga kegaduhan dan seterusnya? Inilah yang akan kita bahas, bagaimana etika menerima informasi, semoga bermanfaat.

KEDUDUKAN INFORMASI
Informasi atau berita atau ilmu pengetahuan menduduki posisi “penentu” dalam kehidupan manusia di dunia. Karena informasi-informasi yang di terimanya, baik dari keluarganya, lingkungannya, sekolahnya, masyarakat dan seterusnya akan menjadi pengetahuan dan pemahamannya, selanjutnya akan membentuk pola pikirnya hingga menjadi keyakinan. Ujungnya akan menentukan pola hidupnya, keputusan yang diambilnya, cara bersikap, akhlaq (moral) dan seterusnya. Dan itupun tidak hanya berhenti pada dirinya saja, namun juga akan berpengaruh pada anak turunya. Iya, kalau yang diyakininya benar, syukur Alhamdulillah, namun kalau salah, bisa menjadi malapetaka bagi dirinya, keluarga, bahkan bagi bangsa dan negaranya. Karenanya haruslah hati-hati, korektif dan selektif dalam menerima dan menyebarkan suatu informasi.
Misalnya terhadap informasi tentang pernikahan Muhammad SAW dengan Aisyah RA, yang umumnya dalam buku-buku sejarah dikatakan kalau pernikahannya dilakukan ketika Aisyah masih usia 9 tahun dan Muhammad SAW berusia sekitar 55 tahun. Bila informasi ini diyakini benar pasti akan berakibat kurang baik, karena akan menimbulkan penilaian kurang baik pada Muhammad SAW (dianggap tertarik pada anak kecil), juga bagaimana kalau ada yang melakukannya dengan alasan mencontoh Nabi. Bukankah menikahi anak dibawah umur termasuk pelanggaran?
Kalau mau korektif terhadap “kisah tersebut” akan tahulah kita bahwa Aisyah RA ketika dinikahi Muhammad SAW saat usia gadis atau remaja, bukan masih anak-anak. Hal ini bila dilihat dari nilai hadis yang menceritakan pernikahan Aisyah dengan Muhammad SAW, sejarah yang menerangkan jarak usia Fatimah dengan Aisyah, sebutan untuk Aisyah waktu itu yang bukan disebut “anak-anak” dan masih banyak lagi.
Misalnya lagi terhadap informasi yang akhir-akhir ini banyak beredar di masyarakat yaitu tentang surat Al Maidah ayat 51. Yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim”.
Dengan memakai ayat tersebut banyak yang berpendapat bahwa umat Islam tidak boleh memilih non muslim menjadi pemimpin. Bahkan yang lebih tragis lagi ada yang mengatakan, kalau kalimat AULYA’U dalam ayat tersebut tidak diartikan “pemimpin”, misalnya diartikan “teman karib” dianggap sebagai Al-Qur’an palsu, padahal itu hanya arti saja. Dan kalau kita hanya mengikuti pendapat ini saja, berarti kita menutup diri dari pendapat lainnya. Sedangkan masalah ini adalah khilafiyah (banyak beda pendapat). Karenanya supaya nanti lebih yakin dalam mengambil keputusan masalah tersebut, maka alangkah baiknya juga melihat pendapat ulama’ lainnya.
Ternyata para ulama’ juga banyak yang berpendapat “boleh memilih pemimpin non muslim” asal baik atau adil. Dan di Al-Qur’an terbitan Depag sendiri juga banyak yang mengartikan AULYA’U (dalam ayat tersebut) dengan “teman karib atau teman dekat”. Mengenai alasan dibolehkannya memilih “pemimpin” non muslim diantaranya :
1. Melihat sejarah turunnya (Asbabul Nuzulnya) ayat tersebut, maka yang dimaksud dengan “Yahudi dan Nasrani” yang tidak boleh dipilih itu adalah “oknum” nya, bukan mutlak orang Yahudi dan Nasroni. Dengan istilah lain, yang tidak boleh dipilih itu yang dholim, karena pada ayat tersebut diakhiri dengan penjelasan “Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim”. Dan ini berlaku juga bagi umat Islam, bila dholim tidaklah boleh dipilih.
2. Dalam sura Almaidah ayat 82, ada penjelasan :
“ ….. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”.
3. Nabi Muhammad sendiri, dalam sejarahnya juga banyak menerima pertolongan atau kebaikan dari “Orang Nasroni”, diantaranya :
~ Ketika masih remaja (ketika ikut pamannya berdagang) ke Syam, disitu diingatkan oleh pendeta Buhaira untuk tidak membawa Muhammad ke Romawi, karena sedang dalam incaran pembunuhan.
~ Ketika Muhammad SAW dalam ketakutannya setelah menerima surat Al Alaq, besoknya dibawa oleh Khadijah ke Waraqah bin Naufal (seorang pendeta Nasrani), dan kata Waraqah: Yang mendatangimu itu adalah Malaikat yang dulu pernah mendatangi Musa AS. Andai saya masih hidup hingga engkau “menerima wahyu” pastilah saya akan mendukungmu sekuat tenaga. (HR Bukhori).
~ Ketika Muhammad SAW da’wah di Thaif, dan dilempari batu oleh orang-orang kafir di Thaif, ditolong oleh seorang budak Nasrani yang bernama Addas dengan diberinya minum.
~ Ketika para sohabat mendapat siksaan dari para kafir Quraisy, oleh Muhammad SAW diperintahkan hijrah ke Habasyah (Ethiopia), yaitu di negeri Nasroni yang dipimpin oleh Raja Nasroni bernama Ash-hamah. Disana para sohabat dapat…

kf

kf

(AL-KAUTSAR EDISI 127 |15 R.Awwal 1438 H (15/12/16)

EditorArtikel
Di era informasi sekarang ini, kita tidak bisa lepas dari derasnya arus informasi. Entah melalui media cetak maupun elektronik, apalagi yang aktif di sosial media atau jejaring sosial, terlebih lagi yang suka googling atau suka berselancar di dunia maya. Informasi apa saja akan dengan mudah dan cepat sampai kepada...