Salah satu unsur taubat nasuha adalah menyesal, menyesal yang bermanfaat.

Menyesal itu ada dua. Ada menyesal yang bermanfaat, ada yang sama sekali tidak bermanfaat. Menyesal dalam bahasa Arab adalah Nadima. Inilah pelajaran penting yang disampaikan Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba baru-baru ini.

Nyai Shofwatul Ummah mengikuti Kautsaran Haul Ibu Sadiyem

Nyai Shofwatul Ummah mengikuti Kautsaran Haul Ibu Sadiyem

 

“Malam ini saya hanya menyampaikan satu kalimat yang bunyinya Nadima, artinya menyesal. Menyesal itu ada yang bermanfaat, ada menyesal yang tidak bermanfaat. Baik itu menyesal dalam persoalan yang baik maupun menyesal tentang persoalan yang buruk,” tutur Sang Mursyid dalam acara Haul Ibu Sadiyem ibunda Nyai Shofwatul Ummah pada Jum’at 12 Shofar 1438H (11/11/16) lalu.

Menyesal yang bermanfaat

Menyesal yang bermanfaat itu yang bagaimana? Dan menyesal yang tidak bermanfaat yang bagaimana? Banyak manusia sering berkata menyesal namun kebanyakan manusia tidak tahu menahu tentang adanya menyesal yang bermanfaat dan menyesal yang tidak bermanfaat.

Menyesal yang bermanfaat itu ialah menyesal ketika masih hidup. Bila orang menyesal tertinggal dalam soal kebaikan maka akan mengejar kebaikan yang tertinggal itu, bila orang itu menyesal karena kesalahan atau keburukan dia berusaha akan menghilangkan keburukan itu. “Menyesal di dunia ini menyesal yang baik, menyesal yang bermanfaat karena menyesal atau Nadima itu menjadi salah satu unsur taubat nasuha, ungkap Mursyid dalam pitutur luhurnya.

Ditambahkan, taubat nasuha sendiri ada beberapa unsur. Unsur pertama nadima penyesalan menyesal, unsur kedua istighfar mohon ampun kepada Alloh, unsur ketiga cepat-cepat melaksanakan kebaikan, unsur keempat berjanji diri tidak akan kembali melakukan kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa. Jika empat unsur itu manunggal, itu namanya taubat nasuha jika kurang dari empat itu bukan taubat nasuha.

Menyesal yang tidak bermanfaat

Adapun menyesal yang tidak bermanfaat ialah menyesal ketika sudah mati atau menyesal setelah kematian. Baikpun menyesal karena kebaikan ataupun menyesal karena keburukan. Seperti disebutkan dalam hadist Rosululloh bahwa saat manusia mati semua akan mengalami penyesalan. Jika matinya dalam keadaan buruk akan menyesal karena tidak bisa lepas dari keburukan, dan juga jika matinya baik tetap akan menyesal karena kebaikannya tidak bisa bertambah. “Jadi yang baik menyesal karena tidak bisa tambah kebaikannya, dan yang buruk menyesal karena tidak bisa menghindari keburukannya” terang Sang Mursyid..(berita selanjutnya baca
AL-KAUTSAR EDISI 127 |15 R. Awwal 1438 H (15/12/16)

EditorBerita Pusat
Salah satu unsur taubat nasuha adalah menyesal, menyesal yang bermanfaat. Menyesal itu ada dua. Ada menyesal yang bermanfaat, ada yang sama sekali tidak bermanfaat. Menyesal dalam bahasa Arab adalah Nadima. Inilah pelajaran penting yang disampaikan Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba baru-baru ini.   “Malam ini saya hanya menyampaikan satu kalimat yang bunyinya Nadima,...