Tidak hanya elit global yang sedang menjalankan misi menjajah Indonesia. Beberapa  Negara yang lain juga terlibat dengan kepentingan masing-masing.

alka127 3-26

kf

Dalam pitutur luhur yang disampaikan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Bp.Kyai Moch.Muchtar Mu’thi saat acara pemberangkatan Opshid dalam program Jelajah Desa ke Malang Raya, beliau menyampaikan bahwa saat ini ada usaha-usaha untuk memecah NKRI menjadi 5 atau 6 negara.
Semua tahu bahwa bumi Papua itu kaya raya, memiliki barisan gunung emas dan tembaga terbesar di seantero dunia. Sedangkan AS dan Australia saat ini sedang mengobok-obok Papua dengan menggiringnya ke arah referendum (jajak pendapat) menuju kemerdekaan Papua, dan dalil yang diusung pun memakai dalil klasik yakni demi demokrasi. Alasan demokrasi inilah yang selalu dipakai sebagai tameng untuk mengadu-domba suatu bangsa. OPM (Organisasi Papua Merdeka) adalah salah satu kaki-tangan mereka di Papua untuk menuntut merdeka. Untuk mendukung rencana itu, Australia pun memberi izin kepada Amerika Serikat untuk menambah pasukan AS di Darwin-Australia yang semula hanya berjumlah 250 personil, dan berdasarkan pernyataan Menteri Luar Negeri AS bahwa pasukan AS yang berada di Darwin saat ini ditingkatkan menjadi 67 ribu orang tentara yang terdiri dari USAF, US Navy, dan US Marine. Pertanyaannya, mengapakah AS melakukan gelar pasukan besar-besaran di Australia padahal saat ini tidak sedang terjadi perang disana??
Sedangkan Turki dengan Swedia berkomitmen mendukung berdirinya negara Aceh yang merdeka dengan memanfaatkan sisa-sisa ideologi GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang belum sepenuhnya hilang di bumi Aceh. Memang beberapa tahun silam setelah dilakukan perundingan damai di Helsinki-Finlandia, GAM menyatakan diri bagian dari NKRI, tapi perlu diingat bahwa hal ini terjadi bukan karena sepenuhnya muncul dari kesadaran kebangsaan, namun sikon yang menuntut GAM harus berbuat demikian yakni karena melemahnya kekuatan GAM sebab digulung bencana tsunami Aceh. Karena keterpaksaan situasi itulah maka wajar jika organisasinya memang sudah dibubarkan tetapi ideologinya masih dipelihara oleh sebagian orang Aceh, dan inilah yang dimanfaatkan oleh Turki untuk membangkitkan romantisme kejayaan negara Islam Ottoman di masa lalu. Cina pun menawarkan bantuan untuk memuluskan rencana tersebut setelah sepakat akan mendapat konsesi sebagai kontraktor utama eksplorasi migas di Aceh yang cadangannya diperkirakan mencapai 358 miliar barrel, terbesar di dunia.
Lain lagi dengan gerakan Wahabi. Mungkin kita sudah menyaksikan di sekeliling kita dengan mata kepala sendiri bahwa sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini faham Wahabi dengan bantuan Saudi juga sedang gencar melakukan gerakan-gerakan politik bawah tanah dengan memanfaatkan simbol-simbol agama. Apakah tujuan mereka? Tujuannya ialah mengubah NKRI menjadi Negara Khilafah. Faham Wahabi dengan cita-cita khilafahnya ini telah merangsek masuk ke kampus-kampus di Indonesia untuk ‘menghipnotis’ para akademisi dan masyarakat luas. Mereka mendirikan ormas-ormas berbasis muslim untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi. Bahkan mereka telah menjelma menjadi partai politik yang ‘sah’ dan memiliki kursi yang signifikan di parlemen, sungguh mengkhawatirkan.
Sedangkan Tiongkok melalui kekuatan 9 naga-nya yang ada di Indonesia saat ini sedang gencar melakukan operasi intelijen di ibu kota dan sekitarnya. Dengan memanfaatkan ‘pasar bebas’ di bidang tenaga kerja, mereka memasukkan jaringan personilnya dengan label ‘buruh migran’ secara masif. Pun mereka saat ini sedang menyiapkan dan membangun kawasan atau zona aman dengan mereklamasi Teluk Jakarta agar eksistensinya tidak bisa dijangkau oleh masyarakat luas. Cara-cara yang biasanya ditempuh kelompok ini dengan mengintervensi perundang-undangan atau segala regulasi yang ada, mereka mempunyai kekuatan finansial yang cukup untuk menjadi sponsor bagi para pembuat undang-undang dan pengambil kebijakan. Sehingga langkah-langkah yang ditempuh seakan-akan telah mengikuti aturan hukum dan regulasi yang ada, padahal aturan hukum dan regulasi telah dibuat atas ‘pesanan’ mereka. Jadi situasi negeri kita saat ini memang sedang dalam keadaan mengkhawatirkan bagi NKRI…

(AL-KAUTSAR EDISI 127 |15 R.Awwal 1438 H (15/12/16)

EditorArtikel
Tidak hanya elit global yang sedang menjalankan misi menjajah Indonesia. Beberapa  Negara yang lain juga terlibat dengan kepentingan masing-masing. Dalam pitutur luhur yang disampaikan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Bp.Kyai Moch.Muchtar Mu'thi saat acara pemberangkatan Opshid dalam program Jelajah Desa ke Malang Raya, beliau menyampaikan bahwa saat ini ada usaha-usaha untuk...