3

ALKISAH, pada suatu saat ada seseorang yang baru masuk bai’at ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah langsung mendapat ujian berat. Konon si fulan murid baru asal Sidoarjo Jawa Timur ini adalah seorang pengusaha yang mengalami kemerosotan bisnisnya. Dia tertarik masuk Shiddiqiyyah atas saran seoarang sahabatnya. Si sahabat tersebut melihat usaha yang digeluti si fulan mulai menyurut, maka dia menawarkan mengajaknya untuk masuk Shiddiqiyyah. Barangkali usahanya bisa pulih kembali. Si fulan pun mengikuti dia puasa empat hari dan masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Nampaknya Alloh justu berkehendak lain dari apa yang diinginkan si fulan. Begitu masuk Shiddiqiyyah usahanya bukan berkembang justru bangkrut kian merosot. Kegagalan-kegagalan dirasakan justru makin cepat saat dirinya masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Merasakan ada sebuah keanehan, dia menghadap pada sang Kholifah Shiddiqiyyah Saifu Umar Ahmadi
Sang Kholifah menyarankan supaya ia ikut bershodaqoh untuk pembangunan-pembangunan di Pesantren pusat Shiddiqiyyah. Apa yang mau dishodaqohkan, usahanya bangkrut uang tak ada hanya tinggal mobil dan beberapa alat bangunan. Sang Kholifah menyarankan supaya mobil itu dipergunakan untuk membantu melancarkan bangunan di pesantren. Si fulan menurut saja apa nasehat sang kholifah.

Dengan berjalannya waktu, akhirnya sang kholifah memperkenalkan si fulan pada Sang Mursyid. Kemudian si fulan meminta petunjuk usaha apa sebaiknya yang harus dia jalani. Sang Mursyid kemudian menyarankan si fulan untuk membuka usaha baru. Dengan semangat dia buka usaha baru sesuai saran Sang Mursyid. Tidak lama usaha itu juga bangkrut, tidak membuahkan hasil bahkan menanggung hutang.

Si fulan kembali menghadap Sang Mursyid, mohon petunjuk dan Sang Mursyid kembali menyarankan membuka usaha yang lain lagi. Tapi nyatanya gagal juga. Begitu dicoba gagal, gagal dan gagal lagi. Tapi anehnya walau gagal berulang kali dan harta bendanya makin hancur, tapi hatinya si fulan itu tenang, dia seperti tidak kecewa dan tidak juga putus asa.

Pada kesempatan yang lain ia kembali mengahap Sang Mursyid dan menyampaikan atas kegagalannya-kegagalanya itu. Dengan singkat Sang Mursyid dawuh, “Jika gagalnya sudah habis kan tinggal suksesnya,” pesan Sang Mursyid.
Satu kata-kata ini masuk dalam jiwanya. Ia pikir dan renungkan pesan Sang Mursyid itu.

“Jika gagalnya sudah habis kan tinggal suksesnya.” Benar juga. Nampaknya Sang Guru sedang menguji keteguhan hati dan kesabarannya. Nyatanya tak lama setelah itu si fulan bangkit menjadi pengusaha sukses, bahkan lebih sukses dari sebelum-sebelumnya, serta amat peduli dengan program-program perjuangan Shiddiqiyyah. Malah si fulan juga menduduki jabatan penting di jajaran organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah.

Belajar kepada Guru Sufi memang tidak seperti belajar kepada ulama’ biasa. Mengikuti petunjuk guru dengan penuh kesabaran, keyakinan, tidak putus asa dan bersih hati dan pikiran menjadi hal yang utama dalam meraih kesuksesan.*

EditorArtikel
ALKISAH, pada suatu saat ada seseorang yang baru masuk bai’at ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah langsung mendapat ujian berat. Konon si fulan murid baru asal Sidoarjo Jawa Timur ini adalah seorang pengusaha yang mengalami kemerosotan bisnisnya. Dia tertarik masuk Shiddiqiyyah atas saran seoarang sahabatnya. Si sahabat tersebut melihat usaha yang digeluti...