Malu

1

SEPERTI lazimnya, pada saat datang Idul Fitri murid-murid Shiddiqiyyah berkunjung ke rumah para Kholifah Shiddiqiyyah, bershillaturrohmi dan memohon maaf. Namun murid yang satu ini memang agak ‘pemberani’. Saat sang kholifah sedang beristirahat dan belum menerima tamu, dia tetep memaksa ingin bertemu.

Halaman rumah kediaman sang kholifah di Kuncung Ngoro Jombang ini penuh mobil para tamu. Tampak orang berjajar-jajar dan bergerombol menunggu. “Wah banyak tamu, antri,” kata seorang murid Shiddiqiyyah dalam hati. “Jauh-jauh masak nggak bisa bertemu,” gumamnya sambil berdiri agak juah di teras masjid samping rumah sang kholifah.

Tapi namanya anak pemberani, ia langsung kontak sang kholifah. Wasilah surat Fatehah ditujukan kepada Bapak Kholifah tersebut hingga beberapa kali. Hampir ia berputus asa, ia bergumam di dalam hati. “Kalau tidak ditemui ya sudah saya pulang saja,” kata pemuda yang juga masih putra salah satu kholifah ini.

Tiba-tiba ada seseorang menyapa. “Cak mau shillaturrohmi ke Bapak ?,” tanya seorang anak perempuan yang tak lain adalah putri dari Bapak Kholifah yang sedang ia tunggu. “Iya Neng,” jawabnya. “Ayo saya antarkan”. Pemuda itu dibawa ke dalam ruang khusus keluarga. Tak lama kemudian sang kholifah berkenan menemuinya.

Saat berbincang-bincang, ia dibuat kaget. “Tidak usah dikontak, saya sudah tahu,” tutur sang kholifah berparas teduh itu. Si pemuda langsung terperanjat dan menundukkan kepala, malu karena terlihat dirinya tidak sabar. “Waduh ketahuan,” pikirnya.

Jam makan siang tiba, sang kholifah lalu mengajak pemuda itu makan bersama. Hidangan pecel lele sudah siap di meja makan. Sang kholifah mempersilahkan juga menemani. Beliau mengambil sedikit nasi dan ikan lele yang paling kecil. Pemuda itu mengikuti seperti apa yang dilakukan sang kholifah sedikit nasi dan ikan. Sang kholifah pun berkata, “Nggak usah ikut-ikut saya, ambil saja yang banyak.” “Nggak papa Pak, saya ingin belajar seperti Bapak. “Oh ya sudah,” jawab sang kholifah. Tampak sang kholifah yang tampak sabar dan berwibawa itu melayani.

Kemudian sebelum pulang sang kholifah memberikan beberapa lembar uang kepadanya. Sembari beliau berkata, “Ini nanti untuk mampir makan di warung,” pesannya. Wah kaget lagi ia, ketahuan lagi. Pucat pasi wajah pemuda ini. Dia baru sadar bahwa saat makan bersama kholifah tadi, dalam hati memang ia berangan-angan nanti pulang dari sini akan mampir warung lagi, sebab dia merasa makan belum kenyang.

Nampaknya semua isi hati bahkan lintasan-lintasan dalam hatinya semua bisa terbaca oleh sang kholifah. Padahal dia sendiri hampir tidak menyadari dan sudah hampir lupa. Dan saat sang kholifah ‘menyindir’ ia baru sadar. “Wah sungguh betapa malunya saya,” kata si pemuda ini saat berkisah.

Sifat malu adalah sifat pemberian Alloh pada setiap hati manusia. Dan setiap manusia pasti malu jika kejelekan dirinya diketahui oleh oran lain. Maka manusia kadang-kadang berusaha menutupi sifat-sifat buruknya.

Dari kisah diatas ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil. Sepandai apapun kita menyembunyikan perasaan hatinya, toh terbaca juga oleh guru tasawuf. Orang tasawuf saja bisa tahu, apalagi Alloh Dzat Yang Maha Tahu.

Maka jika betul-betul rasa malu kita belum koyak, tentu kita akan terus berusaha membersihkan hati kita dari sifat-sifat yang tercela karena Alloh Maha Tahu dan tidak ada sedikitpun kejelekan yang dapat kita sembunyikan. Sifat malu adalah karunia Alloh yang besar, mempunyai manfaat yang besar jika tepat dalam menempatkannya.*