Ketika Negara Tetangga Dibikin Takjub

Picture 066

Melihat keindahan Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, rombongan asal Malaysia terpesona.

BANGUNAN religius dengan arsitektur yang indah membuat banyak orang takjub melihatnya. Betapa, Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah mampu membius siapa pun yang menatapnya.

Hal ini juga dirasakan rombongan ziarah 5 Wali dari negeri Harimau Malaya yang singgah sejenak di pesantren yang terletak di utara, Jombang pada Senin 29 R. Awwal 1439 H (18/12/17). Mereka singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata untuk menziarahi 5 Wali disana.

Bukan tanpa sengaja mereka mampir ke pesantren yang menjadi pusat penyebaran Thoriqoh Shiddiqiyyah di dunia ini. Ada Khoirulzaki selaku kepala rombongan yang juga seorang warga Negara Malaysia yang sudah berbai’at menjadi murid Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Di pesantren para rombongan yang berjumlah lebih dari 40 orang ini diajak berkeliling pesantren dengan beberapa Guru THGB dan Kholifah Tasrichul Adib Aziz. Mereka semua takjub dengan megah dan indahnya bangunan di pesantren.

Tak hanya takjub melihat indahnya bangunan, salah satu peserta rombongan juga takjub dengan luasnya pesantren. Yang mana semuanya dibeli tanpa bantuan dana dari pemerintah sama sekali.

“Kalau di tempat kami butuh uang 10 juta Ringgit untuk bisa memiliki tanah seluas ini, itupun kalau mau membangun meminta bantuan kepada pemerintah dahulu.” Ungkap Mohammad Noor salah satu rombongan yang memakai udeng khas Tuban itu.

Setelah puas berfoto dan tanya jawab dengan beberapa Tour Guide yaitu para guru THGB. Para rombongan dipersilahkan untuk menziarahi makam dari Kyai Achmad Syuhada. Setelah berdoa dimakam kemudian dilanjut ke ndalem Sang Guru untuk diberi petuah dan doa.

Pesan dari Sang Guru hanya satu, jika berziarah harus yakin bahwa daya positif dari para wali itu masih ada di sekitar makamnya, maka ambil daya tersebut dengan doa dan wasilah.

“Yakinlah kalau daya para wali dan ulama’ itu masih ada di sekitar makamnya, walaupun jasmaninya hancur tapi Rohani dan energinya masih ada di sekitaran makam, maka ambillah daya positif itu agar mendapat hikmah saat berziarah.” Ungkap Sang Guru.

“Karena daya positif itu yang menarik kita semua untuk menziarahi makam-makam para waliyulloh itu,” tambah Sang Mursyid.

Acarapun ditutup dengan doa dari Sang Mursyid dilanjut dengan pemberian cideramata kepada rombongan berupa majalah beberapa bingkisan dan foto Jaami’atul Mudzakkirin Yarju Rahmatulloh Pusat.

(diambil dari majalah Al-Kautsar edisi 140)