dari edisi 132_3

Kholifah Ahmad Duchan Iskandar jarang berceramah. Pelajaran diberikan melalui hikmah. Keti ka santri diberi tugas yang secara akal sulit dijalankan, maka ada hikmah luar biasa bakal dipeti k. Seperti kisah berikut ini.

“RI kamu pulang berdakwah ya,” kata Kholifah Duchan Iskandar kepada Qomari, santri Pesantren Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah cabang Kuncung, Ngoro, Jombang. “Nggak usah lama-lama. Tiga hari saja,” lanjut Kholifah yang memberi Qomari uang saku dan alat pijat listrik bermerk Sandidat kepada Qomari.

“Nanti kalau kembali kamu harus membawa uang 300 ribu untuk pembangunan pesantren,” ucap Sang Kholifah halus tapi tampak berwibawa. “Iya Pak.” Qomati menjawab dengan lugas. Namun, sesungguhnya, dia kebingungan. Uang sejumlah Rp 300 ribu di tahun 80-an, jika sekarang kira-kira 3 jutaan. Selain itu, Qomari yang nyantri ini merasa belum cukup menimba ilmu. Singkat cerita, Qomari pulang malam itu juga ke kampung halamannya, di Jember, Jawa Timur.

Alangkah terkejutnya Qomari, ketika tiba di rumah pagi harinya, sudah banyak orang menunggu. “Ada apa ini?” Ternyata orang-orang itu memang sengaja menunggu kedatangan dirinya. Sudah tersiar kabar bahwa santri Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah cabang Kuncung Jombang akan pulang. Tak tahu sumber siapa yang menyebar kabar tersebut. Tiba-tiba Qomari tersadar kalau dia telah membawa alat pijat. Saat itu juga ia langsung beraksi. Ajaib! Orang sakit dipijat dengan alat Sandidat itu langsung sembuh. Pasien meluber hingga menjelang dini hari. Besok paginya yang datang makin banyak.

Qomari dibantu seorang “asisten” yang mendaftar dan mencatat keluhan penyakit dan memberikan nomor antrian. Anehnya, tanpa diminta, semua orang-orang yang berobat itu memberinya amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih. Setelah berjalan tepat tiga hari, Qomari kembali ke Jombang. Tibatiba ada saudagar ikan yang kaya raya datang ingin membeli alat pijat tersebut berapapun mahalnya. Tapi Qomari jelas tak berani. Ini adalah alat milik Sang Kholifah.

Sampai di pesantren, dia ceritakan semua kejadian pada Sang Kholifah dan dia serahkan uang Rp 300 ribu persis dari hasil pijat tersebut. Qomari dibayang-bayangi peristiwa hebat tersebut. Rasa bahagia bisa menolong orang, disanjung dan dihormati. Timbul hasrat ingin mengulangi. Dia beranikan diri menghadap Sang Kholifah. Diijinkan tapi alat pijat tak diberikan. Qomari memberanikan diri mendatangi toko Cina dan meminjam alat pijat, dengan sistem sewa bagi hasil. Tapi apa kemudian yang terjadi. Sampai di kampung halaman, tak seorangpun yang sakit. Tak ada orang antri dirumahnya. Sampai dia kelilling membawa alat itu dan tak ada orang yang mau dipijat karena semua mengaku sehat. Tak puas ia datangi pedagang ikan yang dulu pernah menawar alat tersebut. Aneh juga sudah tak mau membeli. Akhirnya Qomari pulang ke Jombang dengan tangan hampa. Sampai dia perlu menjual pohon kelapa untuk transport kembali ke Jombang.

Kalau kita renung-renungkan hidup di dunia ini sepeti hanya sebuah abdi atau pelayan. Jika kita dengan tulus ikhas melayani menjalani semua yang telah diperintahkan oleh Alloh Ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang oleh Alloh sesuai tuntunan Alqur’an. Insya Alloh tentu hidup ini nikmat dan penuh keberkahan. Tapi kalau kita membuat aturan-aturan sendiri yang tidak selaras dengan perintah Alloh, tentu hanya akan menambah derita. Semoga kita tergolong orang-orang yang ta’at.*

EditorArtikel
Kholifah Ahmad Duchan Iskandar jarang berceramah. Pelajaran diberikan melalui hikmah. Keti ka santri diberi tugas yang secara akal sulit dijalankan, maka ada hikmah luar biasa bakal dipeti k. Seperti kisah berikut ini. “RI kamu pulang berdakwah ya,” kata Kholifah Duchan Iskandar kepada Qomari, santri Pesantren Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah cabang...