MEMBEDAH MAKNA “KAYU GUNG SUSUHE ANGIN”

Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah Pusat menggelar Sillaturohmi dan Tasyakkuran Tahun Baru 1441 Hijriyyah di nDalem Bpk. Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi.

Ratusan warga Shiddiqiyyah pusat maupun daerah berkumpul di Ponpes Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah guna menghadiri acara Sillaturrohmi dan Tasyakuran Tahun Baru 1441 Hijriyyah, pada Sabtu malam Minggu 31 Agustus 2019 M / 30 DzulHijjah H.

Tampak anggota Jam’iyyah Kautsaran Putri Hajaarulloh Shiddiqiyyah Pusat telah memenuhi area nDalem Sang Guru dan dengan kompak mengenakan baju serba putih. Hadir juga beberapa Kholifatus Shiddiqiyyah di dampingi oleh pengurus Dhibra Pusat.

Acara di mulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pembacaan syair pohon Shiddiqiyyah dan sumber kemerdekaan Bangsa Indonesia, dilanjut pembacaan syair JKPHS. Lalu sambutan, dan mauidho hasanah oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Dalam Mauidhotul Hasanah, Sang Mursyid membuka dengan dalil Al-Qur’an yang berbunyi “Inna iddata syuhuur ‘indallohi itsnaa ‘asyaroh syahron” , yang artinya “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan“. Bulan pertama bulan Muharrom (Asyuro), bulan terakhir DzulHijjah (bulan Hajji).

Ibu-ibu Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah Pusat kompak mengenakan baju serba putih

Beliau dawuh bahwa “Bulan DzulHijjah adalah bulan tutup umur dari tiap-tiap tahun, dan bulan ini (bulan Asyuro), buka buku awal tahun,” kata Mursyid.

Bulan Asyuro itu menurut hadist adalah hari raya nya para nabi sebelum nabi Muhammad. “Untuk itu awal bulan Asyuro di sunnahkan mandi dan puasa bulan Asyuro,” ucap sang Guru mengingatkan.

Almukarrom bapak Kyai juga menceritakan tentang perjalanan Lukojoyo atau Sunan Kalijaga saat bertemu Maulana Ibrohim Mahdud (Waliyulloh Sunan Bonang). Dalam pituturnya, beliau menjelaskan bahwa Saat itu Lukojoyo bertemu dengan Sunan Bonang di dalam hutan yang menyamar sebagai kakek tua membawa tongkat dari emas. Hingga terjadilah dialog antara kedua nya.

Singkat cerita saat itu raden Lukojoyo ingin mempunyai ilmu yang bisa merubah daun menjadi emas kepada Sunan Bonang, hingga akhirnya Sunan Bonang memberikan dengan syarat agar mencari buahnya kayu gung susuhe angin.

Mencari hingga seluruh pelosok negri berpuluh-puluh tahun tidak menemukan, lalu menemui Maulana Ibrohim Mahdud (Sunan Bonang). Beliau mengutus untuk mencari lagi di dalam kitab suci Al Qur’an, dicarilah mulai Al-Fatihah hingga surat Annas tetap tidak menemukan. Dan kembalilah lagi ke Maulana Ibrohim Mahdud. Beliau memberikan petunjuk di dalam surat Ibrohim ayat 25-27.

Sunan Kalijaga kembali mencari dan tidak menemukan keterangan kayu gung susuhe angin. Akhirnya Sunan Bonang membuka rahasia dan menerangkan apa yang ia maksud, beliau mengatakan dalam surat Ibrohim ayat 25-27 terdapat kalimat Toyyibah dan Khobisah.

“Kalimat Toyyibah seperti pohon Toyyibah, kalimat Khobisah seperti pohon Khobisah,” terang bapak Kyai.

“Pohon Toyyibah dan pohon Khobisah itu adalah dirimu sendiri (Sunan Kalijaga),” kata bapak kyai mempraktekan ucapan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga.

Terserah kepada manusia itu sendiri, apakah manusia ingin menjadi pohon Toyyibah atau pohon Khobisah. “Seng dimaksud kayu iku Khoyyun, gung iku Agung. Gak ono alam sak ndunyo iki seng agung kejobo manusia, (Yang dimaksud kayu itu Khoyyun, gung itu Agung. Tidak ada alam sedunia ini yang agung kecuali manusia -Red),” terang Almukarrom.

Kok susuhe angin ? Angin niku melbu metu e nafas. Nafas e uwong seng melbu metu iku memang besar manfaatnya. Bahayanya juga besar. (Kok susuhe angin ? Angin itu masuk keluarnya nafas. Nafas nya manusia yang masuk dan keluar itu memang besar manfaatnya. Bahayanya juga besar),” ucap Sang Guru lagi. *ar

Selengkapnya di Majalah Bulanan Alkautsar Edisi 161

Tinggalkan Balasan