Monumen Hari Santri Nasional di Resmikan

JOMBANG – Tiga acara besar Tasyakkuran dan Peresmian Gedung Paseban Jati Kasampurnan, Monumen Hari Santri serta tasyakkuran Hari Sumpah Pemuda serta Ulang Tahun Ke-17 Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah terselenggara di pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Losari, Ploso Selasa (29/10/201). Acara yang dipusatkan di Lapangan Garuda Pancasila ini dihadiri ribuan warga Shiddiqiyyah dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Dimulai pukul 19.00 WIB, acara dibuka dengan penampilan gambus ABRA (JKPHS Semarang). Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan tiga stanza. Kemudian disusul acara pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu. Pada sambutan inti, Ketua DPP OPSHID Moch Subchi Azal dan Camat Ploso Suwignyo yang mewakili unsur pemerintah memberikan sambutan. Selain itu acara juga dimeriahkan oleh Orkesta Tyo Ardian Band Jakarta, Lubil Ahbab dan paduan suara THGB. Puncak acara dilanjutkan dengan Pitutur Luhur Almukarrom Kyai Moch Muchtar Mu’thi. Penandatanganan prasasti peresmian Monumen Hari Santri Nasional yang dilakukan Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah didampingi Ibu Nyai Shofwatul Ummah dan Ketua Umum DPP OPSHID Moch. Subchi Azal.

Gagasan membangun monumen Hari Santri ini berawal dari takjubnya Almukarrom terhadap fatwa Jihad dari para ulama’ untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari serangan Sekutu 10 November 1945.

“Masya Allloh, saya sungguh takjub. Berawal dari kekaguman saya terhadap fatwa jihad. Mencerminkan jiwa besar, dan mencerminkan perjuangan,” tutur beliau dalam ceramahnya.

Monumen Hari Santri ini berdiri indah juga megah. Pembangunan monumen Hari Santri Nasional ini memakan waktu kurang lebih empat tahun.

Di Pesantren yang lekat dengan cinta tanah air ini selain minomen Hari Santri Nasional juga berdiri monumen Sumpah Pemuda, monumen Hubbul Wathon Minal Iman, monumen Teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa, monumen Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Monumen Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan lainnya.

Ketua panitia acara Khoirul Mudzakkir mengatakan puncak peringatan Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda ke 91 sengaja digelar bersamaan.

“Hari santri diperingati dengan bentuk peresmian monumen. Sedangkan hari sumpah pemuda dikemas dalam bentuk tasyakuran, karena disaat yang sama juga ada peringatan 17 tahun berdirinya OPSHID,” kata Khoirul.

Bersama Ulang Tahun Ke-17 berdirinya OPSHID, panitia juga menggelar live music Metafakta Oxytron pada 27 Oktober, dan nonton bareng film WAGE pada 28 Oktober. Selain dihadiri kalangan pejabat pemerintah, dalam acara puncak Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda juga dihadiri ulama dan santri pondok pesantren lain di wilayah Kabupaten Jombang.

Acara tersebut juga dihadiri perwakilan beberapa pesantren di Jombang. “Tambakberas, Denanyar, At Tahdib Wahidiyah Ngoro dan juga yang lain,” tambah Khoirul. (RM)

Tinggalkan Balasan