SI TUNAR, PENJUAL NASI GORENG MENJADI MOTOR PENGGERAK WARGA PURWOKERTO

Setiap orang pasti mempunyai cara tersendiri untuk merealisasikan wujud cintanya kepada sesama manusia. Di Shiddiqiyyah telah diajarkan tiga hubungan manusia, yaitu hubungan kepada Alloh, hubungan kepada manusia, dan hubungan kepada alam.

Di daerah Purwokerto ada seorang yang menjadi motor penggerak. Tunar namanya, seorang penjual nasi goreng yang baru tiga tahun bertemu Shiddiqiyyah. Yang mempunyai inisiatif ingin membangunkan rumah layak huni dengan dengan hasil uang shodaqoh jama’ah kautsaran rutin di Purwokerto.

“Bermula saat pembangunan RLH PCTA-I di Grendeng (Purwokerto Utara) Tunar ini baru ikut kegiatan RLH. Setelah selesai pembangunan RLH, Tunar tanya pak apa menolong orang (rehab rumah) harus menunggu bulan Agustus? Saya katakan, kalau memang kita mampu tiap hari ngga apa-apa. Dia punya ide untul kautsaran 2 minggu sekali dan setiap pertemuan diadakan shodaqoh Rp 10 ribu. Yangmana 50% untuk JM, 25% RLH, 25% KAS. Dan rumah-rumah disekitanya (tetangga) yang rusak diperbaiki. Ini berjalan 1 tahun, Tunar sangat semangat,” cerita Imam Sururi selaku Bendahara DPC Kembaran.

Tunar yang mengagendakan kautsaran rutin dua minggu sekali di daerah Purwokerto. Tunar juga yang mempunyai inisiatif mengadakan penggalangan dana sebesar Rp. 10.000/orang setiap pertemuan dengan rincian 50% untuk JM, 25% RLHS, 25% Kas.

Agenda kautsaran rutin tersebut telah berjalan satu tahun, pada tanggal 03 Robi’ul Akhir 1441 H diadakan tasyakuran jama’ah kautsaran dua mingguan yang mengundang Bpk kholifah Chozinuddin. Acara tersebut berlangsung di musholla Nur Hidayah, Rt/Rw 4/1, kelurahan Grendeng, Kec. Purwokerto Utara. Di isi acara juga diadakan santunan kepada kaum dhuafa sebanyak 5 paket dan uang Rp. 100.000. Dengan nominal perpaket sebesar Rp. 50.000. “Alhamdulillah hingga saat ini manfa’at nya luar biasa dan telah dirasakan banyak orang. Saat ini masih istiqomah,” aku Imam Sururi.

Dihadiri sekitar 135 orang. Meliputi 6 DPC PCTA-I yaitu DPC Sumbang, DPC Baturaden, DPC Sokaraja, DPC Purwokerto utara, DPC Purwokerto selatan, dan DPC Kembaran. Juga dihadiri ketua Orshid beserta ketua-ketua organisasi otonom, DPW Jateng Bpk. Mustajib, lurah Grendeng, warga Shiddiqiyyah, dan masarakat umum.

Imam Sururi menyampaikan poin-poin yang telah disampaikan oleh Pak Chozin saat pitutur luhur. “Ada tiga poin yang dapat diambil saat pitutur luhur dari Bpk. Chozinuddin. Bahwasanya kita dididik mursyid menjadi manusia yang abdan syakuro (manusia yang bersyukur), kita (manusia) punya potensi yang luar biasa dan itu harus dimaksimalkan, semua itu harus disandarkan Atas Berkat Rohmat Alloh,” kata Imam Sururi mengingat kembali pitutur luhur kholifah Chozinuddin.

“Semoga warga atau murid Shiddiqiyyah tambah sadar sebagai warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tau kewajiban-kewajiban kepada gurunya, tambah semangat dan khususnya warga Shiddiqiyyah Banyumas kompak, rukun, bersatu menjalankan dawuh-dawuh beliau Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah,” harap Imam Sururi. *ar

Tinggalkan Balasan