MENEROPONG PEMBANGUNAN PESANTREN JATIDIRI BANGSA MERAJUT PERDAMAIAN NUSANTARA DI KALTARA

Di Kalimantan Utara tepatnya di Desa Limbu Sedulun, Kec. Sesayap, Kab. Tanah Tidung akan berdiri Pesantren Jatidiri Bangsa Merajut Perdamaian Nusantara diatas tanah berukuran 1,5 ha2. Tanah tersebut merupakan hibahan dari Didik Dwi Hermawan warga Shiddiqiyyah di Kalimantan Utara.

Ia mengaku sejak kecil berharap ingin mempunyai pesantren dan masjid. “Dari kecil sejak saya biat sudah ingin berjuang di Shiddiqiyyah dan pengen punya pesantren dan masjid, karena saya ini dulunya nakal makanya saya dan istri niat hibahkan tanah untuk perjuangan Shiddiqiyyah,” aku Didik selaku ketua Orshid Kalimantan Utara.

Bermula saat didik dengan didampingi Kholifah Shiddiqiyyah Hasan Shobari sowan di nDalem Bpk. Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi untuk meminta arahan mengenai tanah yang ia hibahkan. Tanpa disadari, sang Mursyid langsung dawuh bahwa tanah tersebut untuk pesantren Jatidiri Bangsa Merajut Perdamaian Nusantara.

“Itu tanah saya hibahkan ke mursyid dan di amini. Oleh mursyid langsung ditunjuk sebagai Pesantren Jatidiri. Saat itu sang mursyid juga memberi amanah kepada saya dan istri harus berjuang bagaimana pesantren ini harus berdiri dan Shiddiqiyyah berkembang di sini. Dan juga dawuh ,” ujar Didik menceritakan saat sowan ke Bpk. Kyai.

Ketertarikan ia untuk berjuang di Shiddiqiyyah telah ditunjukan dengan selalu aktif mengikuti semua progam Mursyid dan ia terapkan di daerahnya. Seperti turut dalam pembangunan rumah layak huni dan Santunan Nasional.

“Supaya Shidiqiyyah berkembang di wilayah utara Indonesia. Makanya alhamdulillah di terima oleh Mursyid dan direstui. Saya juga diberi amanah lagi untuk menjadi ketua Orshid, itu yang harus saja jaga dan saya laksanakan untuk mengontrol dan mendidik saya biar jadi orang baik dan bener,” pungkas Didik yang juga berprofesi sebagai polisi di kota Tana Tidung.

Didik juga mengaku kesulitan saat hendak mulai membangun pesantren tersebut lantaran minimnya warga Shiddiqiyyah di Kaltara, bahkan bisa di katakan hanya segelintir saja. “Kalau kerja begitu saya berdua istri dan kadang warga sekitar ada ikut bantu kadang 5 orang, kadang mereka rame-rame. Ada satu warga Shiddiqiyyah tapi ketemu cuma sip sip aja diajak belum mau, saya tidak memaksa orang untuk ikut berjuang, kalau mereka tidak mau ya di tinggal yang penting sudah diajak. Ada juga yang belum warga tapi sudah puasa tinggal bai’at,” ujarnya lagi menceritakan suka dukanya.

Untuk dana pembangunan pesantren Didik mengaku telah diberi rezki yang cukup, dan juga memiliki rekan teman yang sedia membantu. “Kami dikasih rejeki cukup untuk berjuang dan teman-teman kami disini yang mau ikut sodaqoh untuk pesantren. Karna kami yakin kedepannya akan berkembang jaya lestari. Ada juga dana dari warga non muslim untuk pesantren, ilmu S3 harus dipake. Sing penting gak njaluk yang mau sodaqoh monggo yang ndak mau ngih monggo. Ngunu ae,” paparnya.

Lika liku perjuangan itu proses kawa Candradimuka, adanya pesantren yang akan berdiri di Kalimantan utara ibarat lailatul qodar bagi mereka warga Shiddiqiyyah Kaltara. Mereka telah diberikan amanah yang cukup besar oleh sang Mursyid yangmana semua itu untuk kejayaan Bangsa Indonesia dan lestarinya Shiddiqiyyah di bumi Nusantara. “Alhamdulillah mursyid bimbing terus biar kami jauh tapi hati kami dekat,” kata Didik Dwi Hermawan. *ar

Tinggalkan Balasan